He Is My Forest
Sabtu, Desember 17, 2016Dari kejauhan aku memandang sosok pria dengan postur tinggi menjulang, berpakaian rapih, dan rambut yang tertat, itulah kekasih hatiku. Orang yang selama hampir empat tahun ini menjadi cinta dalam hatiku. Hahaha.. geli sekaligus miris rasanya jika teringat apa yang sudah aku alami selama ini. Dia kaka tingkat di jurusanku. Sesuatu yang tidak mungkin untuk mendapatkan perhatiannya. Dia seorang yang populer di kalangan mahasiswa yang lain. Hanya saja karena sikapnya yang cuek membuat sebagian orang segan untuk dekat dengannya.
Aku jadi
teringat pertemuan tidak sengaja kami, saat itu aku yang mahasiswa baru sedang
menjalani OSPEK jurusanku. Dan sejak saat itulah aku mulai menaruh perhatian
lebih padanya. Ya tentu saja, bukan hanya aku. Teman-temanku yang lain juga
sama, menaruh perhatian padanya. Sosoknya yang karismatik membuat siapa saja
tidak memungkiri jika dia menarik.
Aku masih
ingat, waktu itu dia mengenakan kaos hitam, celana jeans belel dan dandanan
yang cuek. Tapi ya itulah yang membuatku tidak beranjak memandangnya.
Penampilannya yang berbeda dengan kebanyakan kakak tingkat yang lain,
membuatnya menjadi sosok yang mencuri perhatian. Ditambah dengan sikapnya yang
dingin, membuat kuat kesan badboy dalam dirinya. Pertemuan singkat itu membekas
hingga saat ini.
Sebenarnya,
semenjak saat itu aku mulai bertanya-tanya pada kakak tingkat yang lain
mengenai dirinya. Tentusaja dengan alasan yang dibuat-buat agar mereka tidak
curiga. Dan dari sanalah aku tahu bahwa namanya Faisal. Dia angkatan 2009, jadi
sudah jarang di kampus karena sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata), dia aktif di BEM
(Badan Eksekutif Mahasiswa) di jurusanku dan merupakan salah seorang pendiri
organisasi pecinta alam jurusanku. dengan informasi itu, sekarang aku bisa
memutuskan untuk bergabung dimana. Hehehe
Aku memutuskan
untuk bergabung dengan organisasi pecinta alam, karena kalau BEM itu sudah
menjadi keharusan. Tapi sayang, organisasi pecinta alam ini kurang peminatnya.
Anggota saat aku belum bergabung hanya ada 6 orang anggota. Ditambah aku dan
temanku jadi 8orang. Tapi dengan sedikitnya jumlah anggota, malah menguntungkan
bagiku. Kenapa? Karena dengan begitu aku bisa dekat dengan mereka semua, tentu
saja termasuk Faisal.
Semenjak liat,
trus bisa kenal. Perasaanku padanya mulai tumbuh, ada benih-benih asmara
disana. Seiring berjalannya waktu, perasaanku padanya bukan hanya kagum, aku mulai
menyayanginya, aku mencintainya. Tapi sayang beribu sayang saat itu dia sudah
mempunyai kekasih. Seseorang yang ia pilih untuk mengisi hatinya, menemani
hari-harinya. Hhhhaaahhh tentu saja, wanita mana yang tidak akan menyukainya.
Teringat
perkataan temanku “Kita bebas untuk mencintai siapapun, begiru juga dengan
orang lain. Hal yang perlu diingat hanya jangan memaksa orang lain untuk
menerima atau membalas rasa yang kita miliki.” Tentu saja, perasaan kita ada
dalam kontrol kita, sedangkan perasaan orang lain? Kita tidak dapat
mengontrolnya.
FoReSt. Begitu
aku dan temanku menyebutnya. Dia seakan menjadi seseorang yang menjadi
aktualisasi dari seorang tokoh novel yang pernah aku baca. Imajinasiku memang
konyol. Tapi begitulah kenyataannya. Walaupun aku tidak bisa memilikinya,
setidaknya aku masih bisa bercengkrama dengannya. Melihat senyumnya yang oh my
god, aku bisa meleleh. Hahahaha tapi serius, kalau melihat dia tersenyumtuh
rasanya ingin ikut tersenyum. Jangankan melihat langsung, teringat akan
senyumannya saja membuatku tersenyum sendiri.
Tapi aku juga tahu,
faham dan sangat mengerti semua sikap yang dia tunjukan padaku. Hanya
menganggapku sebagai teman, adik tingkat mungkin lebih tepatnya. Tapi ngga
masalah. Itu membuatku lebih bahagia. Setidaknya bukan harapan palsu yang dia
tampilkan.
Saat aku kuliah
bahkan sampai saat ini belum ada yang bisa bikin aku sesayang sama dia. Yang
lainnya sayang, hanya saja sekedar teman. Tidak lebih. Dan mungkin itulah yang
dia juga rasakan sama aku. Sekedar teman. Tidak lebih.
Sikapnya mulai
berubah saat dia mendengar desas-desus tentang perasaanku padanya. Puncaknya
terjadi ketika aku semester 4, entah kenapa dia seakan menunjukan ketidak
nyamanannya akan kehadiranku. Pernah aku bertanya pada salah seorang anggota
OPA (organisasi Pecinta Alam) tentang kelakuan Faisal padaku
“eh menurut kalian,
Faisal beda ngga sih sama aku?” kataku hati-hati
“beda gimana?”
“ya asa sok
cuek gitu ke aku, ai ke kalian ngga” kataku
“ngga ah, sama
da sama kita juga”
“oh gitu ya,
perasaan aku aja kali ya” kataku akhirnya
Tapi memang
sikapnya aneh, apalagi pas acara penyematan syal dan pemberian nama anggota.
Dia dengan antusias memberi nama pada temen-temanku, sedangkan giliran aku? Dia
seakan tidak menganggapku. Mau gimana lagi, disabar-sabarin tapi kalo uda nyampe
kosan nangis bombay. Hampir 3 tahun terus kaya gitu.
Saking putus
asanya dengan perlakuan dia. Akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari dunia
Forest-ku ke tempat lain. Ke dunia lain. Hingga aku tibalah di dunia maya.
Tempat orang menemukan segalanya. Mulai dari sekedar temen jadi demen. Aku
mulai browsing segala macam situs pertemanan, tapi tetap tidak mengubah apapun.
Aku masih sangat terpana pesonanya. Hingga akhirnya aku bertemu dengan
seseorang yang mampu mengalihkan duniaku.
Pada
bulan-bulan itu marak sekali DIKLAT yang dilakukan oleh OPA yang ada di kampusku,
yang tergabung dalam Forum Komunikasi Perhimpunan Pecinta Alam (FKPPA). Aku
masih ingat, pada tanggal 29 November, salah satu anggota FKPPA mengadakan
DIKLATSAR dan aku sebagai perwakilan dari OPA jurusanku menghadiri acara itu.
Konyol memang, datang paling akhir dan pengen pulang paling awal.
Dari semua yang
hadir, sepertinya hanya dari OPA kami saja yang datengnya cewek semua. Yang
datang itu aku, Ita sama Pipit. Yang lain lagi pada sibuk sama kegitannya
masing-masing. Saat itulah kali pertamanya aku bertemu dengan sang tatapan
dingin.. tampan siihh tapi tatapannya itu looohh.. makjleb.. yang paling parah
ngga ada ekspresi flat abis.
Dan secara
kebetulan aku harus kembali menghadiri salah satu rangkaian pematerian yang
diadakan OPA tersebut. GENTRAPALA itu nama OPA jurusanku, dapat jatah untuk
mengisi materi tentang ibadah darurat yang bisa dilakukan di gunung. Nah, otomatis
ketemu lagi dehh sama dia. Tatapan matanya itu membuat multitafsir.. entah
emang uda gitu sifatnya atau memandang rendah.. ckckck.. entahlah. Abisnya
semenjak aku duduk di depan nemenin kang Dendy presntasi, tiap kali mata kita
ngga sengaja beradu.. srreettttt dingin banget… dan itu ngga cuma sekali saja..
bikin salting.. hahaha.
Semenjak
pertemuan itu, kami mulai saling menyapa jika kebetulan berpapasan, saling
bertanya kabar, atau basa-basi saling bertanya tentang organisasi
masing-masing. Kadang jika kita ada waktu luang, kita pergi untuk climbing bareng. Memang ngga ada kata yang pasti untuk
hubungan kami. Naga ngga pernah menyatakan hal apapun, begitu juga dengan aku.
Satu-satunya hubungan yang menghubungkan kami adalah organisasi. Ya hanya
sebatas organisasi.
Pernah suatu
ketika, saking penasarannya aku bertanya tentang hari dimana aku mengisi
pematerian di OPAnya
“Ga, waktu itu
elo sengaja liatin gue atau elo lagi liatin apa sih?” tanyaku memburu
Setelah kenal
sekian lama, aku jadi tau namanya. Dia Naga Wiguna Dirgantara si tatapan tajam.
“hah? Kapan?”
tanyanya bingung
“itu loh, waktu
aku ngisi materi di OPAmu”
“oh” katanya
singkat
Aku
memandangnya penasaran. Tapi dia hanya tersenyum sambil kemudian mengusap
kepalaku jahil.
“hahaha...
masih kepikiran sampe sekarang?” tanyanya sambil sesekali tertawa
Aku hanya
manyun melihat ekspresinya itu. Pandangan Naga seperti sedang melamun, tapi aku
tidak tahu dia sedang melamunkan apa. Pandangannya kosong, mungkin dia sedang
teringat sesuatu pikirku.
Malam itu, Naga
tiba-tiba datang ke kosanku. Entah angin apa yang membawanya, tapi ada yang
aneh dari raut wajahnya. Naga gugup. Tidak seperti biasanya. Akhirnya aku
beranikan diri untuk bertanya
“kenapa Lo Ga?”
“hhmmm… kenapa
emangnya?”
“elo kayak yang
gugup gitu”
Naga hanya menyunggingkan
bibirnya
“gue.. gue lagi
bingung…”katanya terbata
“bingung
kenapa?” tanya ku
“gue lagi suka
sama seseorang, kita deket, tapi gue baru tahu kalau dia suka sama orang lain”
katanya pelan
“tahu dari
siapa lu kalau dia udah punya seseorang dia sukai?” tanyaku menyelidik
“teman satu
OPAnya yang bilang”
“OPA mana
emangnya? Siapa tahu aku tahu informasinya”
“satu OPA sama
lu”
Aku jadi
semakin penasaran. Cewek itu satu OPA sama aku, tapi siapa?
“siapa?”
“dia yang dulu
dateng ke acara pembukaan DIKLATSAR”
“iya yang
mana?” tanyaku semakin penasaran
“yang..............”Naga
menggantungkan kalimatnya, membuatku mau meledak…
“yang…???”
pancing ku sengaja
“itu yang ngga
pake kaca mata… Ita.”
“oohh. Setau
gue ya, dia ngga suka sama siapa-siapa” terang ku
“kalo elo?”
tanya Naga ragu
“gue?” tanyaku
memastikan
Naga hanya
ngangguk. Ditanya gitu, aku jadi inget lagi sama Forest. Padahal udah lumayan
ngga kepikiran lagi. Aku Cuma tersenyum menjawab pertanyaan Naga. Naga pamitan
setelah pikirannya agak tenang. Setelah Naga pergi, aku jadi kepikiran Forest
lagi, ingin sekali menyapanya malam ini. Tapi waktu sudah menunjukan tengah
malam. Jadi urung ku lakukan.
Besok harinya
aku mengirimkan pesan pada Forest, berharap dia akan merespon. Hari itu adalah seminggu
terakhir aku berada di Bandung. Akuingin sekali bisa bertemu dengannya dan dia
merespon baik. Mungkin karena dia tahu aku sebentar lagi akan pergi. Hari itu
aku bahagia, karena bisa bertemu dengannya. Kami makan bersama dan dia
mengantarku pulang setelah selesai makan. Sepanjang perjalanan, aku ingin
sekali mendekapnya, tapi tak ku lakukan. Aku tahu batasanku. Setibanya di kosan
ku, Forest memberikan syal yang sedaritadi aku genggam.
“udah ya sampai
disini aja. Lupain akang. Mulai sekarang kamu harus bahagia.” Katanya sambil
mengusap kepalaku. Kemudian dia beranjak pergi.
Aku yang
mendengar itu tak kuasa menahan air mata. Ku buka pintu kamarku dan
menghempaskan diri ke tempat tidur. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku
menangis, yang pasti tenggorokanku kering dan mataku sakit. Hari itu menjadi
hari terburuk dalam hidupku. Patah hati sepatah-patahnya.
Beberapa hari
setelah kedatangan Naga ke kosanku, hari ini dia datang lagi. Tapi wajahnya
sudah seperti biasanya, ceria dan bersemangat.
“Ga, jadi
giamana geetan lu?” akhirnya kutanyakan juga. Setelah beberapa hari menahannya
“gue juga
bingung… gue rasa, gue cuma pengen Loe tau” ucap Naga ragu-ragu
“maksudnya??”
tanyaku bingung
“karena gue
rasa, Loe suka sama gue” kata Naga akhirnya
“hah???” dengan
mata melotot yang siap keluar, mulut melongo.. uda ngga kekontrol banget deh
tuh muka. Ngga percaya Naga ngomong gitu..
“Hahahahahahahahahah”
Tiba-tiba Naga
tertawa terbahak-bahak sampe ngeluarin air mata. Kemudian memeluku. Aku semakin
bingung sekarang. Ada apakah sebenarnya??? apa aku sebegitu menyedihkan???
Aku segera
mendorong tubuh Naga. Dengan tidak sadar, aku menitikan air mata, entah air
mata sedih atau karena saking bingung dengan kelakuan Naga.
“Mei…” Naga
mencoba memanggilku yang hendak pergi menjauh. Dengan cekatan Naga menarik
tanganku.
“sory, gue ngga
maksud mainin lu ko. Gue takut lu bakal ngejauh kalo tahu apa yang gue rasain.
Malam itu gue mau nembak lu, Cuma pas gue tanya lu tentang ada atau ngganya
yang lu suka, jawaban lu bikin gue yakin. Kalo emang ada” Kini Naga benar-benar
memelukku erat. Suaranya berbisik lembut.
“gue emang suka
sama seseorang Ga, pacar orang... hahaha” kataku sambil ngakak
Naga melepas
pelukannya, wajahnya terlihat sedih.
“gue ....”
“lu ngga harus
suka sekarang sama gue Mei, gue bakal nunggu lu. Nunggu lu buat nerima gue”
Aku ngga tau
harus berkata apa, aku hanya bersandar di pundaknya. Aku benar-benar bingung.
Sejak hari itu, aku dan Naga lebih sering keluar bareng. Pelan-pelan Naga
membantuku melupakan Forset, walaupun tentu saja tidak sepenuhnya.
Hari ini,
lelaki yang hampir empat tahun yang selalu di hatiku itu akan melepas masa
lajangnya. Forest akan segera menikah. Dan aku hanya bisa melihatnya, mendoakan
kebahagiaan untuknya. Dan Naga jangan tanya tentangnya, dia berdiri di sisiku.
Menemani setiap langkapku, menggenggam erat tanganku. Aku beruntung punya Naga
yang selalu ada untukku.
loading...

0 komentar